Masih segar di benak penulis ketika istilah Masyarakat Ekonomi Asean diperkenalkan tahun 2015 oleh Kemenlu. Istilah tersebut diikuti trend anak muda yang tergerak dan merintis perusahaan baru. Kini lebih akrab dikenal dengan sebutan start up company. Menjamurnya kegiatan ini membuat inovasi anak muda sangat berperan dalam ekonomi Indonesia.

Bicara ekonomi sangatlah berkaitan dengan proses jual-beli. Melihat perkembangan ini maka patutlah bagi seorang muslim—yang terjun langsung ke dunia jual beli, untuk mengetahui bagaimana sudut pandang Islam dalam memandang soal perdagangan.

Ada banyak defenisi terkait jual-beli yang dikemukakan sarjana muslim. Namun penulis ingin berbagi ilustrasi sejarah tentang bagaimana para tokoh pada saat dan sebelum Rasulullah datang memperlakukan jual beli.

Sebagai ilustrasi awal akan diambil kisah dari salah satu sahabat Rasulullah, SAW, Utsman bin Affan R. A, yang dilahirkan pada tahun 573 M dari sebuah keluarga bersuku Quraisy.  Bakat kepemimpinannya telah terlatih karena beliau berpengalaman dalam memimpin usaha dagang dan ternak. Beliau juga merupakan seorang pengusaha besar kala itu. Meskipun kaya raya, beliau hidup dengan sederhana dan sangat dermawan, sehingga beliau dijuluki sebagai Bapak Zuhud.

Kota Madinah pernah mengalami paceklik hingga kesulitan air bersih. Satu-satunya sumber air yang tersisa adalah sebuah sumur milik seorang Yahudi, yaitu Sumur Raumah. Utsman kemudian membeli dan mewakafkan Sumur Raumah. Sejak saat itu Sumur Raumah dapat dimanfaatkan oleh siapa saja, termasuk orang Yahudi pemilik lamanya.

Kemudian kita tarik lagi pada masa sebelum Rasulullah lahir. Yaitu kisah Qushay Bin Kilab, kakek buyut Rasulullah. Qushay adalah keturunan Fihr (Quraisy) yang didaulat menjadi penguasa Kota Makkah dan memiliki keleluasaan menata kembali sistem pemerintahan Kota Makkah agar kompatibel dengan kebutuhan masyarakat dunia masa itu.

Qushay mulai berdagang karena melihat kebutuhan jama’ah haji. Ia melihat ada barang yang membuat para peziarah merasa sulit untuk menemukannya. Qushay mempermudah logistik barang itu dan menjual harga pantas kepada para peziarah. Dan uang hasil penjualannya ia gunakan untuk memberi fasilitas minum karena pada saat itu tak ada air Zam-zam.

Dari dua ilustrasi di atas tercerminlah karakter berdagang yang diinginkan oleh Allah SWT seperti yang difirmankan dalam surah As Shaf ayat 10-13 :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ (10 تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (11 يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (12 وَأُخْرَى تُحِبُّونَهَا نَصْرٌ مِنَ اللَّهِ وَفَتْحٌ قَرِيبٌ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ (13)

(10) Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (11) (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya, (12) niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam syurga Adn. Itulah keberuntungan yang besar. (13) Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.

Dari sini kita bisa melihat bahwa dasar perdagangan dalam Islam adalah untuk membantu orang lain. Mencari tahu kebutuhan seseorang untuk mempermudah orang tersebut. Hal ini juga sejalan dengan hadist Rasulullah SAW,

Dari Abu Hurairah ra, Nabi SAW, bersabda: “Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba Nya selama hamba Nya itu suka menolong saudaranya”. (HR. Muslim, lihat juga Kumpulan Hadits Arba’in An Nawawi hadits ke 36).

Dengan berpegang teguh pada prespektif ini, diharapkan para pemuda muslim Indonesia bisa termotivasi dalam melakukan kegiatan jual beli. Terus berkreasi tanpa meninggalkan Hukum Syara. Karena negara yang hebat adalah negara yang berekonomi kuat, muslim yang kuat adalah muslim yang taat.

Wallahu’alam bishawab.

Leave a comment